Lebih Aman Mana, Obligasi atau Saham,.???

Banyak investor, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman, terjebak dengan pernyataan bahwa berinvestasi di obligasi lebih aman daripada saham. Hal ini tidak sepenuhnya benar. 

Perencana Keuangan Benjamin Graham mengatakan, seharusnya para bertanya dulu, "tergantung kondisi dan harganya juga," sebelum menyatakan mana yang lebih aman.

Sebuah contoh akan memberikan gambaran mengenai konsep ini. Bayangkan anda punya dua pilihan untuk berinvestasi. Pertama, surat utang alias obligasi korporasi dengan bunga 8,5% per tahun. Jika perusahaannya bangkrut, anda berada di baris ketiga yang akan menerima kembali uang anda, setelah para kreditur dan pemegang saham mendapatkan bagian hasil likuidasi aset.

Dalam situasi kebangkrutan seperti ini, biasanya dana para pemegang saham pengendali lebih diutamakan, setelah itu pemegang saham minoritas terakhir baru para kreditur, termasuk pemegang obligasi. Tetapi tiap perusahaan bisa juga menerapkan hal yang berbeda.

Sebaiknya, anda benar-benar menghindari adanya situasi bangkrut seperti ini karena sangat kompleks dan banyak investor baru yang belum sepenuhnya tahu mengenai tata cara kebangkrutan dalam situasi seperti di atas.

Pilihan kedua, adalah saham di sebuah perusahaan yang sama sekali tidak punya utang yang diperdagangkan pada p/e rasio 10, dengan imbal hasil 10%. Manajemennya bagus, penjualan stabil dan tumbuh lebih tinggi dari inflasi. Jika terjadi sesuatu terhadap perusahaan, maka para pemegang saham menjadi yang pertama dilayani karena tidak punya utang apalagi pemegang obligasi.

Dalam situasi seperti ini, anda akan memilih berinvestasi saham di perusahaan tersebut karena lebih aman ketimbang obligasi. Jangan terkejut, masih banyak alasan lagi yang menguatkan teori ini.

Berikut beberapa alasan saham lebih aman daripada obligasi seperti dikutip daribeginnerinvest.com, Kamis (1/12/11):

1. Risiko saham hampir sama dengan obligasi, tapi saham akan berada di antrian lebih depan dibandingkan obligasi jika perusahaannya bangkrut. Pada bukunya keluaran tahun 1934, Graham mengatakan, dalam situasi yang normal (dalam arti tidak berisiko tinggi), memegang saham sama amannya dengan obligasi. Jika terjadi sesuatu di perusahaan, dana pemegang saham akan langsung dikembalikan setelah para karyawan, pemilik lahan, vendor dan lain-lain mendapatkan bagian likuidasi.

2. Biasanya batas minimal bunga obligasi sekitar 8,5% per tahun tetapi itu belum dipotong pajak, sehingga imbal hasil bersihnya sekitar 5,53% sudah dipotong pajak pendapatan. Jadi sekitar 35% dari imbal hasil atau keuntungan yang anda dapat lari ke pajak. Sementara saham, imbal hasil dari dividen biasanya sekitar 5% dan hanya terkena pajak 15% sehingga imbal hasil bersihnya sebanyak 4,25%. Jadi selisih antara saham dan obligasi bukan 3,5% tetapi hanya 1,28%.

3. Jika segalanya berjalan dengan baik, dividen saham punya potensi ditingkatkan supaya investor bisa menikmati porsi keuntungan yang lebih tinggi dari laju inflasi. Biasanya ini dilakukan setelah perusahaan menaikkan harga jual produk dan menikmati lonjakan keuntungan. Hal ini tidak bisa terjadi di obligasi, karena di awal anda sudah dipatok bunga tetap yang tidak bisa berubah. Jika tiba-tiba inflasi naik tinggi seperti krisis tahun 1998, tetap saja bunga yang anda terima sesuai kesepakatan awal.

Jika Tidak Selamanya Lebih Aman Dari Saham, Kenapa Banyak Orang Mengira Sebaliknya? Jawabannya, karena banyak investor baru yang tidak bisa membedakan antara volatilitas dan risiko.

Volatilitas adalah sebuah kata yang menggambarkan pergerakan harga yang sering, cepat dan kadang sangat tinggi atau sangat rendah. Sebuah saham mungkin naik atau turun sebanyak 50% dalam satu tahun yang sama.

Volatilitas dan risiko tak selamanya hal yang sama. Mungkin keduanya masih sulit untuk dibedakan, karena masih banyak orang yang memilih menghindari volatilitas tersebut. Contohnya, orang lebih senang mendapat yield 8,5% tiap tahun, meski sebenarnya hanya 5,53% setelah dipotong pajak, padahal inflasinya sekitar 11%.

Meski tergerus inflasi, banyak orang merasa nyaman dengan investasi obligasi tersebut karena tidak perlu berjibaku dengan segala 'roller coaster' seperti yang sering terjadi di investasi saham.

Kesimpulannya, obligasi jaman sekarang sudah tidak seaman dulu, seperti saham yang sudah sudah tidak terlalu berisiko. Semua kembali lagi ke pernyataan tadi di awal, "tergantung kondisi dan harganya juga." 
Read more →

Porsi Asing di Surat Berharga Negara Menipis Jadi 29% ,. ,.

Bank Indonesia (BI) mencatat kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) mengalami penurunan dari sebelumnya sebesar 35% menjadi 29,3% per 25 November 2011, hal ini menunjukkan rasio yang semakin sehat.

Bank sentral mencatat porsi asing di SBN menurun dari Rp 219,8 triliun pada akhir Oktober menjadi Rp 219,4 triliun per 25 November 2011.

"Share (porsi) asing dalam SBN kan sebelum gonjang-ganjing itu 35%, kita lihat sekarang 29,3% itu mengarah kepada rasio yang lebih sustain (sehat)," ungkap Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo, di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (29/11/2011).

Perry menjelaskan dengan porsi sebelumnya yang mencapai 35% tersebut memang cenderung bisa menimbulkan tekanan. Penurunan porsi asing sendiri erat kaitannya dengan kondisi perekonomian dunia yang masih bergejolak.

"Jadi memang ada tekanan dari situasi global di Eropa. Seluruh kawasan mengalami hal itu. Jadi memang ada investor asing yang menjual SBN atau tidak memperpanjang SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang jatuh tempo," tuturnya.

Perry juga memaparkan terkait porsi asing di SBI jumlahnya juga turun turun dari Rp31,9 triliun pada akhir Oktober menjadi Rp21,9 triliun pada 25 November 2011.

"Sedangkan dari portofolio asing di pasar saham, tercatat masih terjadi kenaikan dari Rp 18,5 triliun per 31 Oktober menjadi Rp 21,2 triliun per 25 November 2011," tandasnya.
Read more →

Beban Karyawan Naik, Laba Bank Mega Turun 7%

PT Bank Mega Tbk (MEGA) mencatat laba Rp 586,699 miliar di triwulan III-2011, turun 7% dari laba tahun sebelumnya pada periode yang sama Rp 631,202 miliar. Laba tergerus akibat beban karyawan yang naik 35%.

Seperti dikutip dari laporan kinerja keuangan perseroan, Rabu (16/11/2011), bank swasta itu membukukan pendapatan bunga bersih senilai Rp 1,408 triliun di akhir September 2011, dibandingkan pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,093 triliun.

Namun sayangnya, beban tenaga kerja bank milik Chairul Tanjung itu mencapai Rp 735,313 miliar, dari sebelumnya hanya Rp 545,134 miliar di sembilan bulan pertama tahun lalu.

Sehingga, total beban operasional selain bunga bersih emiten berkode MEGA itu naik tinggi, dari Rp 418,95 miliar di triwulan III-2011 menjadi Rp 805,702 miliar, melonjak 92,31%.

Lonjakan beban ini menggerus laba operasional Bank Mega yang tercatat menjadi Rp 602,549 miliar di akhir September tahun ini, dari tahun sebelumnya Rp 674,659 miliar. Koreksi ini juga menyeret laba bersih per saham dasar perseroan yang sebelumnya Rp 173 per lembar menjadi hanya Rp 161 per lembar.

Pada perdagangan hari ini, hingga pukul 11.15 waktu JATS, harga saham MEGA stagnan di Rp 3.500 per lembar. Sejak pagi tadi, sahamnya sepi peminat dan tidak diperdagangkan sama sekali
Read more →

Citigroup Berniat PHK 3.000 Karyawan

Citigroup Inc berencana mem-PHK 900 karyawannya dari divisi surat berharga dan perbankan. Angka PHK kemungkinan bisa bertambah hingga 3.000 untuk seluruh divisi, atau sekitar 1% dari total keryawannya.

Menurut sumber yang dekat dengan masalah tersebut seperti dilansir dari Wall Street Journal dan dikutip olehReuters, Rabu (16/11/2011), perampingan karyawan itu dilakukan di tengah gejolak pasar dan krisis utang di berbagai belahan dunia.

Pemangkasan karyawan itu diharapkan bisa membantu mengurangi biaya Citigroup. Raksasa finansial asal Amerika Serikat (AS) itu akhir-akhir ini telah bergerak memangkas biaya operasional di Citi Holdings. Sebelum krisis finansial, Citigroup telah menghadapi tekanan dari investor untuk memangkas biaya, yang ternyata meningkat lebih cepat ketimbang pendapatannya.

Namun sumber itu menegaskan, rencana tersebut bisa berubah karena bank masih terus memfinalisasi rencana untuk mengurangi biaya-biaya. Pihak juru bicara Citigroup tidak berkomentar ketika dikonfirmasi.

Saham Citigroup pada Selasa (15/11/2011) kemarin turun tipis 36 sen menjadi US$ 28,01. Dalam setahun lalu, saham Citigroup telah turun 33,85 persen. 
Read more →
 
 
Copyright © Belajar Ekonomi Islam
Designs By Sehat Dengan Olahraga